Kamis, 09 Februari 2012

rindu

           Orang bilang, patah hati hanya mungkin jika ada cinta. Tentu saja: bagaimana kita mungkin patah hati dengan seseorang kalau kita tidak mencintainya? Patahnya sesuatu selalu mensyaratkan adanya sesuatu yang patah. Tapi jika patah hati dimungkinkan karena cinta, lalu apa yang memungkinkan cinta? Ex nihilo? Tidak, cinta tidak bermula dari tiada. Cinta, ironisnya, bermula dari patah hati. Melalui karyanya Lioni menunjukkan pada kita bahwa cinta justru lahir dari patah hati. Karya-karyanya—lima puluh dua foto yang ia kirimkan tiap minggunya ke lelaki yang berkata tidak padanya—tak lain adalah karya cinta: cinta yang menjadi nyata, yang menjadi material. Cinta yang nyata ini justru dimungkinkan karena penolakan yang mematahkan hatinya. Karenanya, cinta hanya mungkin jika ada patah hati.

            Tapi apa artinya patah hati? Apa yang membuat sedih ketika perasaan kita dinegasi oleh orang yang mau kita cintai? Dari mana asal-usul kesedihan? Ini adalah pertanyaan yang muncul ketika kita masih kanak-kanak: mengapa orang bisa sedih? Setiap orang pasti, setidaknya sekali dalam masa kecilnya, pernah menanyakan itu. Sedih adalah soal apa yang terlepas, yang jatuh ke tanah. Sedih, karenanya, mirip dengan hujan. Sedih adalah ketika kita berdiri tegak di sini tetapi perasaan kita jatuh berserakan di lantai. Dan kita melihat perasaan yang terserak itu seperti mengamati semut-semut yang merayap ke liang tanah dan menghilang. Kita sesudahnya merasa begitu ringan, mengapung seperti awan yang tembus pandang. Kesedihan adalah seperti hari yang cerah. Cinta, bagaimanapun, adalah kesedihan.

            Hakikat sedih dari setiap cinta inilah yang kita temui dalam sepotong kata sederhana: rindu. Orang bilang, rindu adalah milik mereka yang saling mencintai, rindu adalah rasa dari sepasang orang yang saling merasakan satu sama lain. Tapi apa artinya rindu jika itu berarti proses timbal-balik? Seakan-akan rindu sama seperti proses pertukaran komoditas bernama perasaan. Rindu, sebagaimana cinta, selalu bersifat sepihak. Rindu tidak mensyaratkan konsensus di antara berbagai pihak. 

            Rindu adalah seperti perasaan Orfeus dalam legenda Yunani itu. Ketika Euridis, kekasihnya, mati dipatuk ular, kesedihan Orfeus membuat langit menangis dan memberikan kesempatan baginya untuk menjemput kekasihnya di dunia orang mati. Syarat dewa hanya satu: Orfeus mesti berjalan melintasi dunia orang mati sembari diikuti oleh Euridis tanpa boleh sekalipun menengok ke belakang, ke arah Euridis. Apa yang diperbuat Orfeus adalah rasa rindu itu sendiri. Di tengah perjalanannya ia menengok ke belakang untuk menatap wajah Euridis dan pada saat itu juga sang kekasih terurai ke udara kosong. Pada titik di mana ia berbalik dan menatap wajah Euridis itulah Orfeus tahu apa itu rindu. Dengan menatap Euridis, Orfeus membebaskan cinta dari beban kepemilikannya, memberikan pada cinta apa yang memang milik cinta itu sendiri, membebaskan cinta dari dirinya sendiri. Itulah rasa rindu. Itulah cinta dalam rupanya yang paling murni—cinta yang sepihak, rindu yang membuta. Atau, seperti kata penyair kuno Angelus Silesius: The rose is without why; she blooms because she blooms.


Martin Suryajaya
Mahasiswa S2 STF Driyarkara

…..dari inspirasi hingga konfirmasi…..

Mengenal Lioni melalui pertemuan diberbagai komunitas seni-budaya di Bandung, Kappaletta* – singing telegram yang dibentuknya bersama teman-teman dan perbincangan pertama dan kedua kali dengannya di Warung Pasta dan Dalem Wangi, saya mencoba menelusuri cara Lioni yang unik dalam berkomunikasi, menarik perhatian dan menyentuh perasaan.

‘ I miss you ‘ adalah teks yang tertuang dalam image pertama, yang dikirimkan Leoni pada sosok yang khusus baginya melalui email, setelah cintanya ditolak dan kebutuhan akan sarana untuk mengekspresikan ke’galauan’ rasa menemukan ruangnya.

Secara konsisten dan yakin ia kemudian bercengkrama 
dengan sosok yang menginspirasinya memasuki proses ini
dengan rasa, yang terstimulir kuat dan membuatnya berada pada fase ‘AHA’ * dan mencari ruang untuk penyaluran.
dengan proses kreatif, yang membantunya melalui tahapan acak  sistem tubuh dan dunia rasa hingga berstruktur, berbentuk dan menemukan makna.
dengan semua obyek, yang menemaninya melewati ruang dan waktu
dengan kamera, yang merekam moment of truth
dan dengan teman-teman yang ia temui diperjalanan proses, yang kemudian secara kreatif pula membantunya mengkonstruksi pameran.

Perjalanan visual Lioni tumbuh dari minggu ke minggu dalam rangkaian gambar yang saling berkaitan sebagai cerita maupun gambar lepas.  Menarik adalah ketika dalam beberapa minggu ia berkonsentrasi pada tragedi kecelakaan Rex yang berakibat kematian,  rasa duka teman-teman Rex pada upacara penguburan, makam Rex, serta ‘kebangkitan’, yang barangkali bukan hanya sebuah narasi visual, tapi seperti yang sering terjadi dalam proses kreatif, merupakan rangkaian upaya memerdekakan diri dari perasaan-perasaan yang mengungkung dan membiarkan kreatifitas dan imajinasi bebas menjadi penuntun.

Di penghujung pameran, ‘ Have you been receiving my mails’ mengakhiri rangkaian image yang ditampilkan, yang bagi saya bukan sekedar mempersoalkan apakah berita tersampaikan pada sosok yang menginspirasinya, akan tetapi merupakan suatu bentuk konfirmasi pada kita semua, mengenai lapisan kesadaran Lioni yang diungkap lewat gagasan, sensibilitas rasa, tanda, kedalaman makna yang ia komunikasikan dengan lugas, unik dan penuh keisengan.

Marintan Siraitvisual & performing artist,
Founder & facilitator of Jendela Ide and Project #


* Kappaletta adalah jasa telegram bernyanyi yang dibentuk oleh Lioni dan teman-temannya. Menyatakan perasaan kepada seseorang melalui lagu.
* AHA merupakan momen ditemukannya embrio gagasan dalam proses kreatif.


Entah disadarinya atau tidak, Lioni adalah Rex.

Lioni adalah pribadi yang senantiasa riuh dan menularkan kegembiraan pada orangorang di sekitarnya. Bahkan saat masalah tampak begitu kompleks, Lioni adalah teman yang berani dan selalu berusaha menolong, dalam hal apa pun.

Rex dalam fotofoto ini adalah perumpamaan diri Lioni. Senang bertualang, bepergian ke berbagai tempat, berfoto, mengapresiasi keindahan dan berbagi dengan temantemannya. Baik itu berbagi komedi mau pun tragedi.

Warnawarna dalam fotofoto Rex memperlihatkan suasana hati yang sendu dan cenderung sedih walau pun kisah Rex dalam foto tidak selalu miris. Ini seperti Lioni yang merasakan rindu dan patah hati walau pun berada di tengahtengah dunia sekitarnya.

Lioni tidak pernah menyembunyikan apa yang dia rasakan. Namun bukannya bersembunyi dan menutup diri, ia tetap menjadi bagian dari sekitarnya. Ibaratnya seperti warna primer dalam suatu gambar. Sesuatu yang tampak jelas. Bagi seseorang yang kreatif seperti Lioni, karya adalah hal yang bisa diharapkan datang darinya, khususnya di saat ia merasakan emosi yang lebih dari biasa. Ah, cinta. Sebesar atau kecil apa pun itu, selalu ada jejak dan cerita yang tertinggal darinya.

Sebagai bagian dari salah satu etnis yang dikenal keras, bagaimana pun galak atau liar tampaknya di luar, Lioni secara tidak sadar memunculkan sisi relijius dirinya lewat cara yang tidak biasa, bahkan mungkin tidak secara nyata. 

Pilihan Lioni (atau kebetulan) yang jatuh pada hari Rabu mengingatkan saya akan Rabu Abu, di mana biasanya umat Kristiani mempersiapkan Paskah. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesedihan. Tidak ada keselamatan tanpa pengorbanan. Ilustrasi ini muncul dalam beberapa foto Rex. Ada kematian, suasana berkabung, dan kebangkitan.

Lucunya lagi, rex artinya raja dalam bahasa Latin. Ketika disalib, tulisan di atas kepala Yesus berbunyi INRI yang merupakan singkatan dari Iesus Nazarenvs, Rex Ivdaeorvm. 
Raja yang baik adalah raja yang rela berkorban untuk umatnya. 

Rex bertangan pendek. Tangan yang pendek mungkin tidak bisa banyak mengangkut barang berat. Namun tangan yang pendek bisa menjangkau hati dan pundak orang yang berada di sebelah dirinya.

Yang mengulurkan tangan biasanya adalah tangan kecil yang meminta pertolongan. Namun sepanjang saya mengenal Lioni, ia selalu mengulurkan tangan sebelum saya meminta bantuan.


Olivia Kristina
Penulis

Menerjemahkan Rasa - Irma Chantily

Awalnya, hanya Rabu untuk Alex

Satu tahun yang lalu, Lioni Beatrik jatuh cinta dan dibuat patah hati oleh seorang pemuda. Dalam adukan berbagai macam perasaan; sedih, bingung, penasaran, dan rindu, Lioni membuat satu foto dan mengirimkannya kepada sang pemuda lewat surat elektronik. Fotonya sederhana: Rex, tokoh terkenal dari film Toys Story, “berpose” dengan selembar post-it yang bertuliskan “I miss you” yang tertempel di dadanya.

Foto pertama itu ia kirimkan pada  hari Rabu—yang setelah ditelusuri ulang, merupakan hari yang sama ketika Lioni menyatakan cintanya. Ternyata memotret Rex dan mengirimkan foto itu bisa menanggulangi rindu. Sekejap, Lioni tersembuhkan dari rasa sedih. Maka memotret dan mengirimkan satu foto Rex tiap Rabu menjadi hal yang rutin ia lakukan—sampai Rabu ke 52.


Jejak Visual dan Sarana Terapi
Berekspresi menggunakan fotografi bukanlah barang baru. Kamera sudah jamak digunakan sebagian besar orang, dan fotografi pun telah menjalankan beragam fungsinya di masyarakat selama lebih dari dua abad. Begitu pula ketika fotografi digunakan sebagai medium ekspresi dan terapi. Sesungguhnya, pada tahun-tahun belakangan, banyak terapis yang telah menggunakan fotografi sebagai alat untuk memahami hubungan patologis dan untuk memfasilitasi proses mengekspresikan perasaan. Persentuhan dengan sisi kreatif dianggap dapat membuat seseorang berelasi erat dengan perasaan dan pemikiran yang berada di alam bawah sadar—dan ketika mempraktikkannya, ia dianggap dapat mencapai titik yang mendekati tingkat meditatif sehingga level stres pun dapat direduksi.

Begitu pula dengan praktik fotografi. Logikanya mungkin sesederhana ini: memikirkan foto seperti apa yang akan dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain selain perasaannya yang tak berbalas itu. Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya. Tiap hari, ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan “cerita” Rex.

Rangkaian foto ini ditutup dengan foto yang menampakkan Rex—agak membelakangi kamera, dan di tubuhnya tertempel selembar post-it yang bertuliskan, “Have you been receiving my emails?”. Karena pada akhirnya, memang hanya pertanyaan itu yang ingin Lioni utarakan untuk memberi “akhir” pada tahun dan perasaan yang membuatnya berpikir banyak tentang konsep hubungan romantis dan perasaan yang mengikuti. Foto dengan pertanyaan polos khas Rex ini juga menjadi karya penutup yang jenaka dari seluruh rangkaian foto—dengan visual yang menyerupai foto yang pertama Lioni buat.


Di Balik Gambar
Oleh karena itu, perjalanan Rex yang kita jumpai, adalah juga perjalanan Lioni—baik secara fisik maupun mental yang memperlihatkan perkembangan dan perubahan rasanya terhadap seseorang. Melalui proyek fotografi ini, Lioni melakukan terapi kepada dirinya sendiri dalam menghadapi patah hati: ada pemikiran, diskusi dan “penyadaran” yang muncul selama ia menjalani proyek ini. Ada kalanya ia bersemangat memotret. Ada kalanya pula ia benci seluruh kegiatan ini. Ia merasa telah menteror si pemuda dengan kiriman foto setiap Rabu: menjadi pihak yang menyalahgunakan perasaan dan bertindak sangat egois. Kemudian seiring dengan perjalanannya, Lioni sadar bahwa memotret Rex bukan lagi demi menyapanya, tapi untuk mengobati rindu; bukan lagi untuk menjalin hubungan dengan sang pemuda, tapi telah menjadi upaya untuk melupakannya.

Prosesi jatuh cinta dan patah hati yang dialami dirinya—dan setiap orang lainnya, bisa dilihat sebagai cara berkenalan kembali dengan diri sendiri; menyadari bahwa kita masih merasa, mencari tahu apa yang memicu rasa-rasa tertentu dan mempelajari cara-cara yang paling masuk akal untuk berhadapan dengan rasa itu. Dan bagi Lioni, membuat rangkaian foto adalah solusi dalam menghadapi persoalan rasa-merasa tersebut.

Memamerkan seluruh rangkaian foto yang ia buat selama setahun kemudian juga menjadi salah satu fase yang harus dilalui Lioni dalam menggunakan fotografi sebagai medium ekspresi dan terapi—seperti membuat akhir pada keadaannya yang terkatung-katung, menjadikan pameran ini sebagai pameran tentang perasaan—yang tak akan bisa didefinisikan. Manusia tidak punya cukup kosakata untuk membuat orang lain turut memahami sesungguhnya apa yang kita rasakan. Semoga bahasa visual yang lebih mampu menerjemahkan prosesi jatuh cinta dan patah hati—menerjemahkan rasa. 

Irma Chantily 
Kurator Pameran

Persiapan pameran #52wednesdays di Teaspoon, Jakarta







Pameran #52wednesdays di Common Room Bandung