Rabu, 04 Januari 2012

Adakah Cinta di India?

Alfred P Ginting (@alfredpasifico)


Travel makes you part of global consciousness; when your heart, body and soul become one with the pulsating universe.

Ratusan manusia bergelimpangan di atas pasir pantai Marina, Chennai. Di bawah kelam langit Madras, sebagian dari mereka tidur tanpa sarung yang paling buruk sekalipun.

Ya, ini India, yang sering disebut “heaven on earth”. Negeri impian para pencari eksperimen spiritual. Mereka yang digiring oleh kegelisahannya menuju sebuah tanah yang menjanjikan ketenangan. Inner peace.

Negeri yang memakai jargon “Incredible India” untuk promosi pariwisatanya. Sementara mereka seperti tidak membutuhkan turis dengan membuat syarat visa yang sangat ketat bagi orang asing. Tarif hotelnya yang sangat mahal -dibandingkan New York sekalipun- membuat saya berkesimpulan memang negeri ini tidak mengharap pada kocek turis. Karena ada 1,3 miliar populasi mereka yang sebenarnya potensial menjadi penghuni hotel.

Orang terkaya di dunia saat ini, Tata berasal dari India. Mereka yang jauh di bawah titik nadir hidup layak juga ada di negeri ini, para pengemis yang agresif berseru: “One rupee, one rupee Sir!” 


Kontradiksi memang selalu memukau.

Terlebih kontradiksi yang terlontar dari mulut Karan Khumar, seorang teman di New Delhi, ketika kami tak sengaja berbincang tentang pernikahan. Aku tak percaya cinta, kata dia. "I don't mine if my wife short, fat and ugly," kata Karan yang tinggi dan putih seperti orang Punjabi umumnya.

Pernyataan yang mengguncang isi kepala saya. Karena terlontar dari anak muda di negeri dimana berdiri megah Taj Mahal, monumen cinta paling agung dari Shah Jahan untuk almarhum permaisurinya Mumtaz Mahal, yang membuat jutaan turis datang ke Agra. Karan bukan, anak muda India yang kolot. Dia kuliah di Melbourne, Australia.

Dan lima tahun di Melbourne tidak membuat dia anti pada tradisi arranged marriage. “Ketika kau tidak tahu siapa yang akan kau nikahi besok, di situ letak fun-nya,” kata dia.

"Marriage in India is not about love. It's about money," kata Karan.

Dan dia mencoba meyakinkan saya, kalau data masih menunjukkan 95 persen pernikahan di India berangkat dari perjodohan. “Banyak lelaki India, merantau ke Singapura atau Bangkok. Mereka hanya pulang tiga bulan sekali. Buat mereka, buat apa istri yang cantik, toh tidak dilihat setiap hari,” kata Karan.

Karan bukannya tak memuja gadis cantik. Toh setiap kami berpapasan dengan perempuan India menawan, dia seperti lelaki jujur pada umumnya. Tersenyum nakal, bersiul, berdecak kagum, sesekali meminta afirmasi, lalu saya mengacungkan jempol.

Karan mengingatkan saya, cinta dan perkawinan adalah dua hal yang berbeda. Lelaki muda seperti Karan tetap mengencani perempuan yang mereka sukai. Tetapi ketika pada saatnya, orang tua mereka menyodorkan calon wanita untuk dinikahi, mereka tunduk.

Mereka menarik batas tegas antara kemauan dan kebutuhan, antara wants dan needs. Apa yang kau mau tidak selamanya persis dengan apa yang kau butuhkan. Semua lelaki mau perempuan ideal, tapi masyarakat India lebih membutuhkan dinamika sosial yang terdongkrak secara ekonomi karena lembaga pernikahan.

Saya tidak berhenti terpukau, terlebih-lebih mengingat industri film negeri ini yang selalu mengumbar tema cinta. Cinta yang berliku-liku hingga butuh 3 jam bagi sebuah film membangun plotnya. Meski tidak mengikuti film India, saya kemudian sadar, drama di layar memang selalu berbeda dengan kenyataan.

Keterpukauan saya berhenti, ketika tiba di Taj Mahal. Menatap ke seberang sungai, dari sang monumen cinta, terlihat puing bangunan yang belum jadi. Itulah pondasi Black Taj Mahal, istana yang seharusnya berwarna hitam, namun pengerjaannya terhenti sampai pondasi karena Shah Jahan dipasung oleh putranya sendiri.

Bila Taj Mahal monumen cinta bagi sang istri, untuk siapa Shah membangun Black Taj Mahal? Untuk dirinya sendiri. Jadi adakah cinta di India? Mungkin, cinta untuk diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar